Heskey : Leicester Harus Amankan Diri dari Zona Degradasi

Emile Heskey, leicester city, claudio ranieri, premier league, epl 2016

Emile Heskey

Kekalahannya saat melawan West Bromwich Albion di markasnya sendiri membuat pelatih Leicester City, Claudio Ranieri, tak dapat menyembunyikan kekecewaannya kepada tim asuhnya. Permainan buruk di King Power Stadium, memang membuat mereka hampir terjun menuju dasar klasemen sementara Premier League, padahal di musim lalu mereka menyabet gelar juara dan berjaya.

Turun tiga peringkat dari minggu lalu membuat posisi mereka yang tadinya di peringkat ke 11 kini harus terpuruk diposisi ke 14. Mereka hanya mampu meraih tiga kali kemenangan dari dari 11 pertandingan selebihnya mereka berhasil tiga kali mengimbangi lawan dan dipercundangi lima kali oleh lawan.

Pelatih asal Italia itu berpendapat bahwa tersungkurnya Leicester musim ini diakibatkan karena performa buruk yang mereka mainkan. Memang mereka belum pernah bertanding dalam dua kompetisi liga bergengsi dalam satu musim, sehingga energi mereka lebih banyak terkuras. Pertandingan yang dimaksud adalah Premier League dan Liga Champions.

Ia menjelaskan penyebab kekalahannya terhadap West Bromwich pada minggu lalu “Kami mencoba untuk bermain dengan gaya kami. Babak pertama tak terlalu bagus, tapi babak kedua lebih baik. Hari ini tak mudah untuk menerapkan gaya kami, mungkin karena terlalu banyak bermain di Liga Champions,”.

Ia pun melanjutkan “Untuk pertama kalinya penampilan kami tak mengalir, sangat sulit. Ini aneh untuk kami. Kami harus berbicara untuk menemukan solusi bersama. Saya tak senang karena kami kehilangan rekor kandang kami. Kami harus terus kompak seperti yang kami lakukan musim lalu, saat segalanya berjalan lancar,”.

Sebagai mantan pemain bintang Leicester City, Emile Heskey, sudah menduga bahwa penurunan performa para pemain Leicester City sudah dapat diprediksi. Bahkan untuk masuk zona degradasi dari Liga Inggris pun sangat memungkinkan.

Heskey menjelaskan “Hal tersebut pasti akan menjadi sebuah ketakutan, apalagi saat Anda berada di papan bawah klasemen. Jika mereka tidak ingin memenangkan Premier League, mereka harus memburu 40 poin dan itu tak mudah,”.

Umumnya, angka 40 poin merupakan patokan nilai aman agar sebuah klub dapat bertahan di Premier League dan terhindar dari zona degradasi di akhir musim.

Heskey juga berpendapat Leicester harusnya lebih konsentrasi untuk dapat mengejar 40 poin dulu. Sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Setidaknya berada dilingkungan Premier League tentunya akan memperbesar kesempatan mendapatkan gelar lagi untuk musim depan. Namun kalau sudah degradasi? Perlu usaha lebih.

Leicester Tak Bawa Pulang Poin Lawan Watford

Watford v Leicester City, Watford, Leicester City, Premier League, epl 2016

Watford vs Leicester City

Dalam ajang kompetisi Premier League putaran ke 12 kali ini Leicester bertandang ke markas Watford, Vicarage Road Stadium. Namun sayangnya tim asuhan Claudio Ranieri lagi lagi harus menelan kekalahan dan tak membawa pulang satu poin pun.

Pertandingan hari Sabtu tanggal 19 November kemarin memang kurang begitu menegangkan sebagai penonton, terutama pada babak kedua. Kedua tim sepertinya lebih cenderung bertahan walaupun Leicester lebih unggul sedikit dalam penguasaan bola. Tuan rumah mencari celah dengan serangan balik yang cepat sedangkan Leicester secara perlahan membangun serangan.

Namun tak banyak serangan yang dilakukan oleh kedua tim. Tercatat kedua tim sama sama melakukan 10 kali pecobaan menjebol gawang. Tim Watford melakukan tiga kali tembakan tepat sasaran dan 7 kali melenceng sedangkan Leicester hanya dua kali tembakan tepat sasaran dan tiga kali tendangan melenceng. Sisanya berhasil diselamatkan oleh Heurelho Gomes, penjaga gawang Watford.

Pertandingan dibabak pertama memang diawali oleh keterkejutan serangan dari tuan rumah. Dalam hitugan dektik Troy Deeney dari sisi kiri memberikan umpan ketengah kotak penalti dan disanalah Etienne Capoue berada dan menembakan si kulit bundar tanpa sanggup  di jangkau oleh Ron-Robert Zieler. Sehingga tuan rumah mengungguli sang tamu 1-0.

Di menit ke 12, lagi lagi Leicester berhasil kebobolan. Kali ini umpan dari Prodl dari ujung kotak penalti sukses disundul oleh Roberto Pereyra menuju ke atas kanan gawang dan hampir ditangkap oleh Zieler.

Tertinggal dua angka dari tuan rumah membuat pasukan dari Jamie Vardy bangkit dari tidurnya. Setelah gol dari Pereyra, mereka mulai membangun serangan, namun Miguel Angel Britos Cabrera mencegahnya serangan tersebut dikotak penalti di menit ke 15. Untungnya kecerobohan Cabrera membuat Leicester mendapatkan tendangan penalti.

Kali ini yang menjadi algojo tendangan 12 pass adalah Riyad Mahrez. Dan ternyata Ia berhasil mengubah tendangan penalti tersebut menjadi angka. Skor berubah menjadi 2-1.

Sampai babak pertama selesai, tak ada lagi perubahan angka dari kedua tim.

Dibabak kedua, sang pelatih Ranieri agak sedikit merubah strategi. Mereka berusaha untuk dapat menyarangkan minimal satu gol lagi dan mencoba untuk menghentikan pemain lawan. Tercatat 3 karu kuning pada babak ini dimiliki oleh Leicester. Tiga pemain pun sudah coba dirotasi oleh Ranieri namun sampai babak kedua selesai, angka di papan skor tetap sama 2-0.

Tak ada perubahan dalam posisi klasemen sementara untungnya karena pemilik posisi 13 kebawah tak ada yang menang, kecuali Sunderland yang sempat menang melawan Hull City namun tak mempengaruhi kedudukan peringkatnya. Leicester pun masih barada di posisi ke 14 seperti minggu lalu.

 

Mahrez : Leicester Perlu Messi

Riyad Mahrez, leicester city, Lionel messi, premier league, barcelona, epl 2016

Riyad Mahrez

Dalam kompetisi Premier League musim ini, sepertinya harus diakui oleh Leicester City bahwa mereka tak memiliki keberuntungan seperti musim lalu yaitu menjadi jawara liga yang paling bergengsi di Inggris. Namun nyatanya posisi mereka saat ini semakin memprihatinkan tiap minggunya dalam klasemen sementara.

Memang sudah seharusnya pelatih mereka, Claudio Ranieri, mencari strategi untuk dapat berpikir keras sehingga mereka tak berada di zona degradasi. Tentunya akan sangat mengenaskan jika status sang juara musim lalu harus turun dari tahtanya ditambah dengan harus keluar dari kompetisi yang dijuaraina karena masuk zona degradasi. Apalagi mereka pasti akan dikenal dan dicap sebagai juara yang beruntung mengingat mereka baru sekali menjadi juara Premier League selama ikut kompetisi ini.

Saat ditanya kepada Riyad Mahrez, siapakah sekiranya seorang pemain yang mampu membantu mereka jika berhasil direkrut. Pemain sayap dari Leicester menjawab sekaligu menyarankan untuk klubnya mengambil mega bintang sepak bola dari Barcelona yaitu Lionel Messi. Hanya saja tidak sebagai penyerang namun lebih kepada gelandang yang mampu memberikan bola panas untuk dapat dijebolkan ke gawang lawan, Jika memungkinkan.

Ia mengatakan hal tersebut dikarenakan Messi sepertinya tidak tertarik lagi dalam membombardir gawang lawan namun lebih kearah pemberi umpan kepada rekannya di Barcelona.

Mahrez merupakan salah satu pemain kunci bagi Leicester untuk menjuarai Premier League musim lalu. Bahkan Ia disebut sebagai gelandang terbaik 2016. Hanya saja jika itu terjadi maka posisinya akan terancam.

Ia mengatakan “Jika Leicester bisa mendatangkan pemain bintang maka saya akan mengatakan Messi namun ia bisa mengambil posisi saya,”.

Kemungkinan mewujudkan keinginan Mahrez adalah sangat tipis. Karena harganya pasti sangat tinggi,para kompetitor pun pasti akan berebut memberikan nilai kontrak setinggi tingginya kepada La Pulga. Selain itu dengan membeli seorang messi sepertinya Leicester bisa membeli 3-5 pemain baru lain. Apalagi Messi sempat mengungkapkan bahwa dirinya akan pensuun diusia 31 nanti.  Malah Ia dikabarkan menolak untuk mendatangani kontrak terbaru dengan klubnya.

 

Kontrak Messi dengan Barcelona adalah sampai dengan 2018. Seandainya Ia gagal dalam memberbarui kontrak dan tidak memperpanjangnya, maka klub manapun bisa dipastikan akan berebut untuk mendapatkan jasanya dan akan menghemat biaya buyout, dari klausul pelepasan pemiliknya.

 

Namun sepertinya hal tersebut masih lama dan tak akan terjadi dalam waktu dekat mengingat Leicester harus mencari pemain lain lagi untuk menjauhi dari zona degradasi  yang sedang menghantuinya.

Lawan West Brom, Leicester Kalah di Kandang Sendiri

Leicester city, west nrom, Leicester City vs West Brom, Premier league, Epl 2016

Leicester City

Dalam pertandingan kemarin tanggal 6 November 2016 Leicester City melanjutkan kompetisi bergengsi Liga Inggris. Kali ini Ia menjadi tuan rumah untuk menjamu West Bromwich Albion di King Power Stadium. Sayangnya walau dikandang sendiri, The Foxes juga harus tunduk oleh permainan yang diberikan West Brom.

Ketidakberdayan dari Leicester terlihat dari performa yang diberikan pada pertandingan tersebut. Di babak pertama Tim asuhan Claudio Ranieri sepertinya lebih cenderung bermain aman. Mereka lebih menguasai bola dibandingkan West Brom namun entah mengapa daya serang mereka menjadi tumpul. Mereka bahkan hampir tak sempat menyentuh gawang lawan.

Namun sampai babak pertama selesai, kedua belah pihak tak ada yang mampu menyarangkan bola keperut gawang lawannya. Namun setelah turun minum permainan mulai berjalan semestinya. West Brom sepertinya lebih berani merubah strateginya dengan mengubah tempo permainan menjadi lebih cepat.

Pada menit ke 52, Ron-Robert Zeiler tak mampu menahan serangan dari James Morrison. Gelandang asal skotlandia itu berhasil memecahkan keheningan dengan menggetarkan gawang Leicester setelah mendapatkan umpan Matt Phillps sehingga angka berubah menjadi 0-1.

Untungnya kebobolan gol yang dialami Leicester tak berlangsung lama. Tiga menit kemudian Islam Slimani berhasil menyamakan kedudukan 1-1 setelah menerima umpan lambung dari Riyad Mahrez yang berada tepat didepan mulut gawang dan menembakkannya tanpa mampu diantisipasi oleh penjaga gawang West Brom, Ben Foster. Imbangnya skor mampu membuat lega supporter dari Leicester.

Sayangnya di menit ke 72, saat ingin menyelamatkan bola lambung dari pemain Leicester lainnya, Matt phillps mampu mengejar bola tersebut dan mampu melewati Zieler serta mengantarnya ke dalam perut gawang.

Berbagai upaya dilakukan oleh pasukan Ranieri namun hingga babak kedua berakhir, mereka harus merelakan poin mereka dibawa oleh West Brom tanpa disisakan sedikitpun.

Dengan kekalahan tipis 1-2, posisi Leicester City semakin tenggelam saja dari minggu sebelumnya. Mereka harus turun tiga peringgkat dari posisi ke 11 menjadi posisi 14 dan tinggal menunggu waktu untuk masuk zona degradasi jika tak ada perubahan yang signifikan.

Musa Selamatkan Leicester dari Kekalahan VS Hotspurs

Ahmed musa, leicester city, tottenham hotspurs, hotspurs vs leicester city, premier league, epl 2016, claudio ranieri

Ahmed Musa Leicester City

Kemarin Sabtu , tanggal 20 Oktober 2016,  Leicester City di jamu oleh Tottenham di White Hart Lane dalam melanjutkan ajang pertandingan putaran ke 10 Premier League musim ini. Kali ini mereka tak dapat melanjutkan trend positif mereka dimana pekan lalu, mereka sempat menang melawan Crystal Palace dengan skor 3-1.

Pertandingan kali ini mereka hanya mampu mengimbangi permainan oleh Tottenham dan membawa pulang satu poin. Sebenarnya Leicester juga hampir ditekuk oleh Tottenham jika Ahmed Musa tidak berhasil menggetarkan gawang mereka.

Sebagai tuan rumah, Tottenham sangat mendominasi permainan. Mereka bermain lebih baik dalam segi penguasan bola. Bahkan secara data yang tercatat dari flashscore, Hotpurs menguasai permainan 64%. Mereka juga  lebih agresif menyerang sedangkan dengan sabar menunggu kepemilikan bola lepas dari penguasaan lawan. Tercatat juga tottenham melakukan 22 kali tembakan ke gawang, sedangkan Leicester hanya 6 kali di sepanjang pertandingan.

Pada pertandingan babak pertama, walaupun Tottenham banyak menekan Leicester namun untungnya tak satupun yang berhasil masuk ke gawang yang dijaga oleh Kasper Schmeichel, sampai akhirnya di ujung babak pertama selesai. Namun di menit ke 44, Robert Huth dengan jelas memegangi pemain Hotspurs di kotak penalti dan ini mengakibatkan wasit memberikan Spurs hadiah tendangan Penalti. Vincent Jansen mengeksekusi tendangan tersebut dan sayangnya tembakannya gagal tak mampu dihalau oleh Schmeichel. Skor menjadi 0-1.

Setelah babak kedua dimulai, untungnya Leicester berhasil menggagalkan  kemenangan Hotspurs. Pada menit ke 48, Jamie Vardy memberikan bola kepada Ahmed Musa yang berada dekat dengan gawang dan menyarangkan tembakannya ke gawang Leicester. Skor menjadi imbang 1-1

Namun walaupun Hotspurs masih mencoba menekan Leicester, mereka tak mampu lagi meloloskan bolanya dari tangan penjaga gawang Schmeichel.

Ranieri selaku Pelatih Leicester City meungungkapkan analisanya mengapa Hotspurs menekan Leicester sedemikan kuat dan tampil maksimal melawan pasukannya. Menurutnya ini dikarenakan mereka ingin mengejar ketertinggalan dengan para pemilik posisi tiga besar klasemen Premier League. Ia juga menilai tim yang dikomandoi Mauricio Pochettino tak ingin rekornya ternodai larena saat ini mereka adalah satu-satunya tim di Premier League yang belum pernah terkalahkan.

Ia mengungkapkan kepada The Mirror “Hotspurs merespons dengan baik. Mereka sangat fokus, serta mereka merespons dengan fantastis, dan oleh karena itu, mereka tidak terkalahkan sampai sejauh ini. Mereka segudang memiliki alasan untuk mengalahkan kami. Itu wajar, ini sepakbola. Akan ada reaksi besar dari mereka dan kami harus menunjukkan kepribadian kami, kekuatan kami dan filosofi kami.”

Ia juga melanjutkan “Kami juga harus menujukkan kebugaran dan kedisiplinan – segalanya. Mereka lapar. Tottenham satu-satunya tidak tak terkalahkan sejauh ini karena mereka memiliki skuat yang sangat bagus dan Pochettino bisa mengubah dan melakukan rotasi.”